Hari Lahir Pancasila selalu datang dengan dua wajah yang paradoksal. Di satu sisi, ia hadir dalam rupa formalitas—upacara yang khidmat, pidato yang terukur, dan pengingat sejarah yang rutin. Namun di sisi lain, ia hadir dengan wajah yang lebih sunyi namun menuntut: sejauh mana nilai-nilai itu benar-benar berdenyut dalam praktik keseharian kita sebagai bangsa?
Di titik inilah, Pancasila berhenti menjadi sekadar teks yang dihafal, dan mulai menjadi pertanyaan yang menggugat.
Bagi dunia akademik, gugatan itu terasa lebih tajam. Di tengah gegap gempita teknologi, kita dipaksa bercermin: apakah ilmu yang kita kembangkan telah benar-benar kembali kepada manusia? Ataukah kecerdasan intelektual kita hanya berhenti menjadi kompetensi teknis yang dingin, kering, dan terpisah dari nurani kebangsaan? Sebagai Ketua DPD AFEBSI Jawa Timur, saya memandang Pancasila bukan lagi sebagai warisan masa lalu yang statis, melainkan sebuah kompas etika yang harus terus diuji di tengah badai disrupsi dan dominasi kecerdasan buatan (AI).
Pancasila dalam Ruang-Ruang Kecil Kita sering membayangkan Pancasila dalam ruang-ruang besar—sidang kenegaraan atau kebijakan publik. Namun sesungguhnya, Pancasila bekerja dalam mikrokosmos yang sering terlupakan: di ruang kelas yang pengap dengan diskusi, di meja kerja dosen saat mengoreksi integritas karya mahasiswa, hingga dalam kejujuran seorang peneliti dalam menyusun data.
Integritas, kejujuran akademik, dan keberanian berpikir kritis adalah bentuk paling konkret dari Pancasila yang “hidup”. Tanpa itu, Pancasila berisiko menjadi artefak yang indah namun hampa makna. Nilai-nilai ini tidak diuji pada seberapa sering ia dipekikkan, melainkan pada seberapa dalam ia membentuk perilaku saat tak ada orang yang melihat.
Akademisi: Menjadi Jembatan, Bukan Menara Era disrupsi digital telah mengubah wajah pengetahuan secara fundamental. Informasi kini melimpah ruah, namun justru melahirkan kelangkaan baru: kebijaksanaan. Kecerdasan buatan bisa merangkai argumen dalam hitungan detik, tetapi ia tidak memiliki tanggung jawab moral atas dampak dari argumen tersebut.
Di sinilah peran akademisi mengalami pergeseran krusial. Ia tak boleh lagi betah berdiam diri di dalam “Menara Gading”, memeluk pengetahuan untuk dirinya sendiri. Akademisi harus menjadi jembatan. Ilmu tidak boleh berhenti di rak perpustakaan atau jurnal yang terkunci; ia harus hadir dalam bahasa yang dipahami publik. Ketika gagasan akademik disampaikan melalui tulisan reflektif atau media digital yang populer, ia tidak sedang kehilangan kedalaman—ia justru sedang memperoleh daya jangkau sosial yang lebih luas.
Konsistensi sebagai Integritas Dalam dunia yang serba instan, konsistensi adalah bentuk baru dari integritas intelektual. Banyak gagasan besar lahir di meja diskusi, namun sedikit yang dirawat dalam jangka panjang. Upaya untuk terus menulis, mendokumentasikan proses berpikir, dan berbagi secara terbuka kepada publik adalah bentuk disiplin intelektual yang sejalan dengan semangat Pancasila.
Sebab, nilai tidak akan hidup hanya karena ia diajarkan; ia harus dipraktikkan berulang kali hingga menjadi refleks kebudayaan. Konsistensi antara apa yang diyakini, apa yang diajarkan, dan apa yang dilakukan adalah ujian sejati bagi seorang intelektual.
Ujian Makna di Era AI Teknologi AI menantang kita untuk mendefinisikan ulang apa artinya menjadi “cerdas”. Ketika produksi teks menjadi sangat mudah, maka pembeda utamanya bukan lagi kecepatan, melainkan kedalaman nilai. Pancasila hadir sebagai kompas agar teknologi tidak mendikte kemanusiaan, melainkan diarahkan untuk memuliakannya.
Akademisi ditantang untuk tetap setia pada nilai di tengah godaan pragmatisme teknologi. Kita harus memilih: apakah kita akan menjadi operator mesin yang efisien, atau menjadi penjaga api moral yang memastikan arah peradaban tetap pada rel kemanusiaan.
Penutup: Melampaui Seremonial Pada akhirnya, Hari Lahir Pancasila mengingatkan kita bahwa sebuah bangsa besar tidak dibangun hanya dengan kecanggihan alat, tetapi dengan kekokohan karakter. Dalam dunia akademik, karakter itu mewujud dalam kejujuran ilmiah, disiplin intelektual, dan kesediaan untuk mengabdi pada kepentingan publik.
Pancasila tidak menuntut kita untuk selalu berbicara tentangnya; ia menuntut kita untuk menjalankannya. Di tengah perubahan zaman yang berlari cepat, tantangan terbesar kita bukan sekadar menjadi pintar, tetapi tetap menjadi manusia yang setia pada nilai.
Sebab, ilmu yang tidak kembali kepada kemanusiaan akan kehilangan arah. Dan pendidikan yang tidak berakar pada nilai akan kehilangan ruhnya. Di situlah Pancasila menemukan relevansinya yang paling sejati: bukan sebagai simbol masa lalu, melainkan sebagai algoritma nurani untuk masa depan.
Dr. Agus Andi Subroto Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan & Ketua DPD AFEBSI Jatim Surabaya, 01 Juni 2026